Rukun, Syarat, dan Ketentuan Puasa Ramadan

Puasa Ramadan, Puasa berasal dari bahasa Arab yaitu Shaum yang artinya menahan diri. Ibadah puasa merupakan salah satu ibadah yang diperintahkan Allah

Rukun, Syarat, dan Ketentuan Puasa Ramadan
ilustrasi: freepik.com - edit: islamrukun.com

Puasa Ramadan, Puasa berasal dari bahasa Arab yaitu Shaum yang artinya menahan diri. Ibadah puasa merupakan salah satu ibadah yang diperintahkan Allah dan telah diajarkan oleh Rasulullah Nabi Muhammad Saw. Namun sebagian orang menjadikan puasa dalam rangka tujuan tertentu seperti untuk meningkatkan kualitas kehidupan spiritual seseorang, seperti puasa yang dilakukan oleh para petapa.

Definisi puasa secara bahasa diartikan sebagai menahan dari sesuatu. Syarat sahnya suatu puasa yaitu mampu menahan diri dari segala hal yang dapat membatalkannya dan dilakukan dengan syarat dan ketentuannya. 

Macam-macam Puasa

  1. Dalam Islam ada 4 macam puasa yang ditinjau dari hukumnya, yaitu:
  2. Puasa wajib seperti Puasa Ramadan, Puasa kifarah, Puasa Qadla, serta Puasa Nazar
  3. Puasa sunah. Macam – Macam Puasa Sunah seperti puasa enam hari Syawal, puasa Arafah, puasa Tasu’a dan Asyura, puasa ayyamul bidh, puasa Senin Kamis, puasa Daud, dan sebagainya.
  4. Puasa makruh seperti mengkhususkan bulan Rajab untuk berpuasa, mengkhususkan hari Jum’at untuk berpuasa.
  5. Puasa haram, seperti puasa pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha dan puasa pada hari tasyrik.

Nah kali ini kita akan membahas tentang puasa wajib terlebih dulu, terkhusus Puasa Ramadan.

Pengertian Puasa Ramadan

Puasa Ramadan adalah serangkai ibadah puasa bagi umat muslim yang ditunaikan pada setiap bulan Ramadan. Adapun pelaksanaan Puasa Ramadan dan Fadhilahnya adalah sebagai bentuk upaya dalam rangka menunaikan ibadah kepada Allah Swt.. 

Puasa Ramadan merupakan pelaksanaan dari Rukun Iman yang keempat yang telah diperintahkan oleh Allah Swt. kepada seluruh hamba-Nya yang beriman.

Allah telah berfirman dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 183, yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu sekalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Dari ayat di atas jelaslah bahwa melaksanakan puasa Ramadan adalah wajib hukumnya. Di mana hal tersebut adalah bentuk pertanggungjawaban manusia kepada penciptanya secara vertikal atau ibadah yang menyangkut hablum minallah.

Selain itu juga, puasa Ramadan erat kaitannya dengan agenda kemanusian atau hubungan di antara manusia satu dengan manusia lainnya, seperti timbulnya rasa simpatik dan rasa kebersamaan, timbulnya semangat untuk saling tolong menolong, dan sebagainya.

Dalam dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 185 juga disampaikan oleh Allah tentang kewajiban Puasa Ramadan.

“Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat inggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur” (QS.  Al Baqarah: 185)

Rukun Puasa Ramadan

Adapun Rukun Puasa Ramadan adalah :

1. Niat

Niat merupakan salah satu rangkaian utama dalam pelaksanaan ibadah puasa ramadan maupun ibadah-ibadah lainnya. 

Dalam sebuah Hadist yang diriwayatkan oleh Jamaah, Rasul bersabda, yang artinya:

“Sesungguhnya amal tergantung dari niat, dan setiap manusia hanya memperoleh apa yang diniatkannya.”

Niat Puasa Ramadan dibacakan sebelum fajar tiba. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh 5 orang perawi dari Hafsah.

Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalam pernah bersabda:

“barang siapa tidak berniat berpuasa sebelum fajar, tak ada puasa baginya.”

Namun tentang pembacaan niat puasa Ramadan terdapat perbedaan diantara beberapa golongan, yaitu :

Menurut Mahdzab Syafi’i, Hanafi, dan Hambali niat pelaksanaan puasa Ramadan adalah wajib dibacakan setiap malam bulan ramadan, yaitu mulai dari terbenamnya matahari hingga sebelum sang fajar terbit (waktu imsak).

Bacaan niatnya seperti berikut:

“Nawaitu shouma ghodin ‘an adaa-i fardhi syahri romadhoona haadzihis sanati lillaahi ta ‘aala”

Artinya: “Aku berniat puasa esok hari menunaikan kewajiban Ramadan tahun ini karena Allah Ta’ala.”

Sedangkan menurut mahdzab Maliki menyatakan hal yang lain yaitu niat untuk berpuasa Ramadan bisa dilakukan sekali saja, yaitu pada malam pertama yang diniatkan selama sebulan penuh.

Adapun bacaan niatnya seperti ini:

 “Nawaitu sauma syahri ramadana kullihi lillaahi ta’aalaa.”

Yang artinya “Aku berniat berpuasa sebulan Ramadan ini karena Allah ta’ala.”

2. Menahan diri dari kegiatan makan, minum, bersetubuh, maupun hal-hal lainnya yang dapat membatalkan puasa

Allah telah berfirman dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 187, yang artinya:

“Dihalalkan bagimu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri kamu. Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan dirimu, karena itu Allah mengampuni dan memaafkan kamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam. Tetapi jangan kamu campuri mereka, ketika kamu beri’tikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, agar mereka bertakwa.”

Syarat Puasa Ramadan

Syarat sah puasa Ramadan adalah sama seperti syarat-syarat berpuasa pada umumnya. Yaitu dibagi menjadi dua:

Syarat Wajib 

Syarat wajib puasa ramadan yaitu apabila seseorang telah tiba pada masa tertentu, maka ia wajib melaksanakan ibadah tersebut atau sudah tiba bulan Ramadan baginya.

Adapun syarat wajib puasa adalah:

1. Berakal, artinya puasa diwajibkan bagi mereka yang waras dalam berfikir sebagai seorang manusia. Dengan kata lain tidak gila, tidak sadarkan diri (koma).

2. Baligh, artinya puasa diwajibkan bagi mereka yang telah mencapai usia baligh disisi syarak.

Adapun tanda seseorang yang bisa dikatakan baligh antara lain adalah:

  • Ihtilam (keluar air mani baik dalam keadaan sadar maupun sedang bermimpi).
  • Tumbuhnya bulu pada kemaluan.(Baca : Mencukur Bulu Kemaluan Dalam Islam)
  • Pada wanita terdapat dua tanda khusus yakni datangnya haid serta kehamilan.

3. Kuat dan mampu untuk puasa, artinya apabila seseorang sedang dalam keadaan sakit yang apabila dengan berpuasa akan mendatangkan beban kepada dirinya seperti penyakit yang ia derita semakin parah atau sesorang yang sedang dalam perjalanan jauh  (musafir) maka ia tidak diwajibkan untuk berpuasa.

Hal ini dipertegas dengan firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 185, yang artinya:

 “…barangsiapa yang dalam keadaan sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain…”

Syarat Sah Puasa

1. Beragama Islam, artinya ibadah puasa Ramadan telah disyariatkan bagi umat Islam, dan bukan bagi orang-orang yang kafir. Mumayiz, artinya mampu membedakan yang baik dan yang tidak baik.

2. Suci dari Haid dan nifas bagi kaum wanita, artinya jika seorang wanita sedang dalam keadaan haid maupun nifas, maka ia tidak diperbolehkan untuk berpuasa, akan tetapi ia wajib menggantikannya di lain hari sebanyak puasa yang telah ia tinggalkan di bulan tersebut.

Dalam sebuah Hadist yang diriwayatkan oleh Muslim menjelaskan :

“Dari Mu’adzah dia berkata, Saya bertanya kepada Aisyah seraya berkata, ‘Kenapa gerangan wanita yang haid mengqadha’ puasa dan tidak mengqadha’ shalat?’ Maka Aisyah menjawab, ‘Apakah kamu dari golongan Haruriyah? ‘ Aku menjawab, ‘Aku bukan Haruriyah, akan tetapi aku hanya bertanya.’ Dia menjawab, ‘Kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqadha’ puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha’ shalat.”

Hal-hal yang memperbolehkan untuk berbuka puasa (tidak berpuasa)

Puasa Ramadan diwajibkan bagi mereka yang beriman baik itu laki-laki maupun perempuan, serta bagi mereka yang telah baligh dan memiliki pikiran yang waras dan juga sehat. Akan tetapi beberapa golongan orang diperbolehkan untuk tidak menjalankan ibadah puasa Ramadan dengan ketentuan:

1. Dalam Perjalanan Jauh

Mereka yang sedang dalam perjalanan jauh atau bepergian dengan ukuran yang boleh mengerjakan shalat qashar dan tujuan dari bepergian tersebut adalah tidak untuk kemaksiatan. Mereka yang mengalami hal tersebut memiliki kewajiban untuk mengqada puasanya di lain hari.

Kita bisa melihat dalilnya dari cuplikan Firman Allah dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 184, Allah SWT. telah berfirman, yang artinya:

 “(Yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu dia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.”

2. Orangtua Berusia Lanjut

Mereka yang tidak kuat berpuasa karena sudah tua dan tidak memungkinkan bagi mereka untuk menjalankan ibadah tersebut. Orang-orang seperti itu tidak diwajibkan untuk mengqadlanya, akan tetapi ia diwajibkan untuk mengeluarkan fidyah jikalau ia mampu mengeluarkannya.(Baca : Hukum Keramas Saat Puasa)

Kita bisa melihat dalilnya dari cuplikan Firman Allah dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 184, Allah SWT. telah berfirman, yang artinya:

“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu), memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”

3. Dalam Keadaan Sakit

Mereka yang sedang dalam keadaan sakit dan bisa sembuh lagi. Bagi orang-orang seperti ini, terdapat kewajiban untuk menqadla puasanya dikemudian hari setelah ia sembuh, akan tetapi jika ia tidak dapat mengqadlanya, ma ia berkewajiban untuk membayar fidyah jika ia mampu.

Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, Al-Baihaqi, Rasul bersabda, yang artinya:

“Maka ditetapkanlah kewajiban puasa bagi setiap orang yang mukim dan sehat dan diberi rukhsah (keringanan) untuk orang yang sakit dan bermusafir dan ditetapkan cukup memberi makan orang miskin bagi orang yang sudah sangat tua dan tidak mampu puasa.”

4. Wanita Menyusui dan Hamil

Bagi mereka terdapat kewajiban untuk mengqadha puasa di kemudian hari atau dengan cara membayar fidyah. Beberapa ulama menyatakan bahwa bagi wanita hamil dan menyusui selain kewajiban membayar fidyah, maka ia wajib mengganti puasanya di lain hari.

Rasulullah Saw. pernah bersabda, yang artinya:

“Wanita yang hamil dan wanita yang menyusui apabila khawatir atas kesehatan anak-anak mereka, maka boleh tidak puasa dan cukup membayar fidyah memberi makan orang miskin “ (HR. Abu Dawud).

Sunah-sunah dalam Menjalankan Puasa Ramadan

1. Makan sahur pada waktu akhir malam (mendekati imsak) meskipun hanya dengan seteguk air saja. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar menjadi kekuatan bagi mereka yang berpuasa. Sebaiknya sahur diakhiri sebelum terbitnya fajar.

Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalam pernah bersabda, yang artinya:

“Sahur itu suatu berkah. Maka janganlah kamu meninggalkannya, walaupun hanya dengan meneguk seteguk air, karena sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya bershalawat atas orang yang bersahur.” (HR. Ahmad)

2. Menyegerakan untuk berbuka puasa apabila telah nyata benar waktu terbenam matahari. Dan sangat dianjurkan bagi mereka yang berpuasa untuk berbuka puasa dengan kurma atau makanan yang manis-manis, atau juga bisa dengan air saja. 

Dalam sebuah hadist, Rasulullah Saw.bersabda, yang artinya:

“Apabila seseorang diantara kalian berbuka, maka hendaklah ia berbuka dengan korma. Jika ia tidak memperoleh korma, hendaklah ia berbuka dengan air, karena air itu bersih dan membersihkan.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi dari Sulaiman bin ‘Amir)

3. Membaca Niat Buka Puasa. Adapun niat do’a berbuka puasa yang sering kita dengar adalah “Allahumma laka shumtu wa bika amantu wa ‘alaa rizqika afthartu birahmatika ya arhamarrohimin.” Yang artinya: “Ya Allah bagi Engkau aku berpuasa dan dengan Engkau beriman aku dengan rezeki Engkau aku berbuka dengan rahmat Engkau wahai yang Maha Pengasih dan Penyayang.”

Adapun bacaan do’a yang diucapkan oleh Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalam ketika berbuka puasa adalah “Dzahaba-zh Zama’u, Wabtalati-l ‘Uruuqu wa Tsabata-l Ajru, Insyaa Allah”. yang artinya: “Telah hilang dahaga, urat-urat telah basah, dan telah diraih pahala, insya Allah.”

4. Menjaga lisan (ucapan) serta bertaubat agar tidak terjatuh dalam perbuatan kemaksiatan.

5. Memperbanyak kegiatan beribadah seperti membaca, menghayati, serta mengamalkan Alqur’an.

6. Melaksanakan shalat tarawih pada malam hari serta shalat-shalat malam seperti tahajud dan shalat witir.

7. Beri’tikaf di dalam masjid untuk mengharapkan Malam Lailatul Qadar.

8. Meninggalkan hal-hal yang membatalkan puasa.

Hal-Hal yang diperbolehkan dan hal-hal yang dilarang selama berpuasa

Selama menjalankan puasa ramadan, terdapat hal-hal yang boleh dilakukan dan hal-hal yang tidak boleh dilakukan. Apa sajakan itu? Berikut rinciannya;

1. Hal-hal yang boleh selama puasa

Menyiramkan air ke atas kepala di siang hari yang disebabkan oleh rasa haus maupun karena udara yang sangat panas. Hal yang sama juga berlaku pada kegiatan menyelam kedalam air pada siang hari, selama dalam melakukannya kita tidak menelan air tersebut secara sengaja.

  • Melakukan Mandi Wajib atau mandi junub setelah adzan subuh berkumandang
  • Berhijamah disiang hari. Hijamah adalah proses membuang darah kotor yang bertoksin dan beracun yang berbahaya, dari tubuh badan kita melalui permukaan kulit.
  • Menggauli, menciumi, serta mencumbu istri di siang hari tetapi tidak sampai bersetubuh.
  • Menghirup air ke dalam hidung (beristiyak) terutama pada saat sedang berwudlu, dengan catatan tidak terlalu kuat pada saat melakukannya.
  • Mencicipi makanan pada saat memasak.

2. Hal-hal yang membatalkan puasa

  • Makan dan minum disiang hari secara sengaja.
  • Muntah yang dilakukan dengan sengaja, sedangkan jika hal tersebut tidak sengaja dilakukan, maka puasanya dianggap masih sah.
  • Mendapatkan haid di siang hari pada saat masih berpuasa (bagi wanita)
  • Bersetubuh atau melakukan hubungan badan secara disengaja di siang hari. Hal ini selain membatalkan puasa, juga ia juga wajib menjalankan puasa selama 60 hari secara terus menerus.
  • Terbersit niat untuk berbuka puasa di siang hari

Demikian itu penjelasan tentang rukun, syarat, dan ketentuan puasa ramadan.